Archive for September, 2008

Sep 29 2008

Makan Semangka di Ranokolo

Published by dionbata under Nuaola, Perjalanan

SEKELOMPOK pria dan wanita duduk melingkar di dalam pondok kecil di pinggir jalan raya Maurole- Welamosa. Yang tidak kebagian tempat, berdiri mengelilingi pondok. Mereka serius mendengar penjelasan dari seorang pria tua berpeci.

Seorang ibu muda menulis sesuatu pada buku besar. Pemandangan menarik tersaji di balik pondok. Ratusan buah semangka dan melon siap panen menyembul indah di hamparan sawah yang kering. Hamparan sawah Tiwu Lodja, sekitar 67 km arah utara Kota Ende.

Hari itu, Kamis 18 September 2008, jarum jam hampir menunjukkan pukul 10.00. Udara panas, jalanan berdebu, terik matahari mulai terasa membakar kulit. Diskusi kelompok pria dan wanita tersebut terhenti sejenak saat Pos Kupang datang menyapa. Seorang pemuda bergegas memetik buah semangka. Dibelah lalu disajikannya. Semangka Ranokolo tak kalah rasanya dibanding semangka asal Tarus, Semau, Kabupaten Kupang. Kerongkongan segar, dahaga sirna.

Mereka yang berkumpul di pondok itu adalah anggota kelompok tani dari Kampung Wolondopo, Desa Ranokolo, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende. Para petani itu tergabung dalam Sekolah Lapangan (SL) Wolondopo. Hari itu mereka menggelar rapat difasilitasi tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Rofinus Bheti, S.Pt. Agenda pokok yang dibahas adalah persiapan acara panen perdana semangka dan melon pada Selasa, 23 September 2008. Panen perdana dilakukan Camat Maurole, Drs. Gregorius Gadi dan pejabat dari Dinas Pertanian Kabupaten Ende.

“Kami buat acara sederhana. Kami undang Pak Camat untuk panen secara simbolis sekaligus memberikan motivasi kepada kami untuk lebih serius mengembangkan semangka dan melon,” kata Ketua Kelompok Tani Wolondopo, Alexius Wai (62).

Menurut Rofinus Bheti, Sekolah Lapangan (SL) Wolondopo semacam proyek contoh guna optimalisasi pemanfaatan lahan sawah tadah hujan di Desa Ranokolo. Luas lahan sawah tadah hujan di desa itu sekitar 150 ha. Kebiasaan lama, setelah panen padi (sekali dalam setahun), petani di sana menanam kacang hijau. Pasca panen kacang, mereka istirahat total dari aktivitas di sawah karena ketiadaan air. Mereka beralih memetik jambu mete dan kakao atau mengurusi ternak sapi, kerbau, kambing, babi dan ayam.

“Setelah panen padi dan kacang, petani istirahat. Mereka tunggu musim hujan berikutnya. Jadi sekitar tiga sampai empat bulan lahan tidak dimanfaatkan,” kata Rofinus Bheti yang tinggal di Desa Ranokolo sejak tahun 2000.

Inspirasi Rofinus Bheti mendorong petani Ranokolo mengembangkan semangka dan melon datang dari Tarus, Kabupaten Kupang. Dalam suatu pelatihan di Kupang tahun 2007, ia menyempatkan diri mengamati usaha tanaman semangka di Tarus. Dalam waktu 75 hari petani di Tarus sudah bisa panen semangka dan melon. Pemasarannya pun sangat bagus. Petani mendapat keuntungan.

Sekembali ke Ende ia mengorganisir petani binaan dan membuat rencana sekolah lapangan. Rencana tersebut didukung pimpinan BK3P (Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluh Pertanian) Ende dan Dinas Pertanian dengan memberikan bibit semangka hibrida, melon serta pupuk. Tanggal 22 Juli 2008 ujicoba penamanan semangka dan melon dimulai pada lahan seluas 25 are milik Thomas Taghi (60), salah seorang anggota SL Wolondopo.

Rofinus Bheti bangga, cara mengembangkan semangka yang diajarkan kepada 25 petani binaanya cukup berhasil. Berat buah maksimal mencapai 6 kg dan terasa manis seperti semangka Tarus atau Semau.

Meski demikian, para petani masih perlu didampingi terutama dalam hal perawatan dan perlakuan agar semangka tidak berbuah tunggal. Idealnya satu pohon semangka bisa menghasilkan 2-4 buah/pohon. “Bila pemangkasan tidak dilakukan lebih dini, satu pohon hanya menghasilkan satu buah semangka,” ujarnya.

Menurut Rofinus usaha pada tahun pertama sekadar ujicoba. Hasil panen pertama untuk konsumsi sendiri dan sebagian dijual. Tahun depan tanaman ini diharapkan menjadi andalan petani Ranokolo mendapatkan uang setelah panen padi dan kacang hijau. Ia berharap, setiap anggota SL Wolondopo bisa menanam 25 are tanaman semangka di lahan sawah tadah hujan. Kebutuhan air bisa terpenuhi dengan menggunakan mesin pompa air.

Ketua Kelompok Tani Wolondopo, Alexius Wai mengakui, selama ini mereka hanya mengenal semangka lokal berbuah kecil dan rasanya kurang manis. Semangka hibrida yang diperkenalkan PPL Rofinus Bheti sangat bagus dan memberikan harapan bagi mereka mendapatkan uang pada musim panas.

“Kami banyak belajar lewat sekolah lapangan. Tahun pertama ini kami belajar bersama. Tahun depan, kami akan usahakan sendiri di lahan masing-masing,” ujar Wai dibenarkan anggota kelompok lainnya, Thomas Tahi, Petrus Sato, dan Martinus Mbete.

Alexius Wai dan Rofinus Bheti menyadari, pemasaran menjadi masalah yang bakal dihadapi anggota kelompok tani tersebut. Namun, mereka optimis pasar lokal seperti Kota Ende, Maumere dan Mbay bisa ditembus. “Sejauh pengamatan saya, penjual buah di Kota Ende mendatangkan semangka dari Kupang,” kata Bheti.

Peluang lain, Ranokolo, Ropa, Sokoria berada di jalur segitiga jalan Pantura Flores. Mbay di barat, timur ke Maurole-Maumere dan selatan ke Ende. Saban hari jalur ini dilalui bus antarkota dan angkutan pedesaan. Kemudahan akses transportasi itu merupakan peluang yang harus diambil. Setiap hari orang datang dan pergi.

Ranokolo pun tidak jauh letaknya dengan proyek pembangunan listrik tenaga uap (PLTU) berkekuatan 2×7 MW di Ropa, sekitar 3 km dari lokasi persawahan Tiwu Lodja. PLTU Ropa merupakan sumber daya energi yang dibutuhkan untuk pengembangan industri di kawasan Utara Flores. Masa depan petani di wilayah utara Ende, Sikka dan Kabupaten Nagekeo sangat menjanjikan. Lahan kering pada musim panas bukan menjadi alasan untuk menyerah. (dion db putra/eugenius moa)

Tinggal di kampung

“SELAMA 18 tahun menjadi PPL, saya selalu tinggal di kampung. Pindah dari kampung ke kampung bersama keluarga,” kata Rofinus Bheti, S.Pt, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Ranokolo, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende.

Dengan memilih tinggal di kampung, kata Bheti, dia lebih memahami dan mengenal kehidupan para petani.
Setelah menyelesaikan kuliah di Kupang, Rofinus Bheti mengabdi sebagai PPL honorer di Desa Wolojita tahun 1990. Tahun 1993 dia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Setelah mengabdi selama delapan tahun di Wolojita (1990-1998), suami dari Yulita Wigho yang dinikahinya tahun 1996 itu dipindahkan ke Detusoko.

“Desa binaan saya di Detusoko adalah Saga. Di sana saya sempat membuat sekolah lapangan,” katanya.
Hanya dua tahun dia bertugas di Detusoko. Pada tahun 2000, Rofinus Bheti dimutasi ke Kecamatan Maurole. Ayah dua anak itu ditempatkan sebagai PPL di Desa Ranokolo sampai sekarang. Dia juga merangkap sebagai mantri tani. Menurut Bheti, di kecamatan Maurole terdapat enam tenaga PPL yaitu Lawan Silvester, Rofinus Bheti, Thres Jumba, Albina Moi, Romanus Said dan Darius Pio. Setiap PPL bertugas melayani satu sampai dua desa binaan.

“Petani tidak percaya kalau kita hanya omong-omong. Mereka baru percaya kalau melihat contoh. Jadi, kita harus beri contoh dulu dan selalu bekerja bersama- sama dengan mereka,” kata ayah Ferdinanto Y Bheti (11) dan Marvin Theresa Bheti (6) tersebut.

Salah satu kendala yang dihadapi PPL adalah menularkan pengetahuan dan keterampilan kepada para petani binaan. “Daya serap petani kita umumnya lemah. Mereka tidak mudah mengadopsi pengetahuan dan keterampilan dari PPL. Maka pendampingan masih sangat dibutuhkan. Seorang PPL harus sabar. Tidak semua program kita berhasil,” demikian Rofinus Bheti. (dion db putra)

Pos Kupang edisi Sabtu, 27 September 2008, halaman 16

No responses yet

Sep 29 2008

Demo Pendukung Paket AFI Berlanjut

Published by dionbata under Pilkadal 2008

KUPANG, PK — Pendukung dan simpatisan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Kupang, Ir. Alex Foenay-Dra. Sofia Malelak de Haan (paket AFI) kembali melakukan demo di KPUD Kabupaten Kupang, Senin (29/9/2008). Aksi kemarin merupakan kelanjutan dari aksi sebelumnya, Minggu (28/9/2008).

Melalui tujuh orang perwakilannya yang menemui Johni K.Tiran (Ketua KPUD) dan Rahel Suhardjana (Ketua Pokja Pencalonan) di ruang rapat KPUD setempat, pendukung dan simpatisan paket AFI menuntut KPUD menunjukkan bukti tanda terima dari pasangan calon lain yang diduga terlambat memasukkan daftar kekayaan kepada KPK.

Tujuh orang perwakilan massa adalah Drs. Dumuliahi Djami, Rudy Tonubessi, Lamek Blegur, Nelson Ndolu, Vinsen Huler dan John Djogo. Dumulihai Djami mempertanyakan hasil pleno yang tidak disampaikan kepada masing-masing pasangan calon, termasuk AFI dan media massa, dan juga mempertanyakan tempat berlangsungnya pleno karena tidak dilakukan di KPUD setempat.

Lamek Blegur mempersoalkan kenapa KPUD tidak menjelaskan aturan yang dipakai sebagai rujukan penyampaian daftar kekayaan kepada KPK.

Menurut Lamek, paket AFI menyampaikan daftar kekayaan pasangan calon kepada KPK merujuk pada PP Nomor 17 Tahun 2005.

Johni Tiran mengatakan, rujukan yang digunakan AFI berdasarkan PP Nomor 17 Tahun 2005 itu tidak salah dan dia sendiri juga setuju. Tapi, yang digunakan KPUD adalah Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pencalonan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

Dalam dialog ini disepakati bahwa KPUD Kabupaten Kupang siap menujukkan tanda terima pasangan calon lain yang diduga terlambat memasukkannya sama dengan paket AFI. Namun sebelum ditunjukan, Johni Tiran meminta agar KPUD diberi kesempatan untuk berkonsultasi ke KPUD NTT.

Permintaan itu disetujui sehingga Johni Tiran serta Ketua Pokja Rahel Suhardjana meninggalkan ruang pertemuan dan menuju KPUD Propinsi. Keberangkatan mereka juga diikuti tujuh perwakilan, berselang 30 menit kemudian.

Ketua KPUD serta Ketua Pokja bersama tujuh orang wakil massa pendukung AFI kembali dari KPUD sekitar pukul 15.45 Wita,.

Dumulilahi selaku kooridinator mengumumkan kepada massa hasil konsultasi dengan KPUD Propinsi, bahwa untuk sementara massa bubar dan kembali ke sekretariat sambil menunggu hasil investigasi KPUD NTT kepada KPUD Kabupaten Kupang paling lambat pukul 24.00 Wita. Massa akhirnya membubarkan diri pada pukul 16.00 Wita.

Johni Tiran yang hendak dimintai konfirmasinya tidak bersedia memberikan keterangan karena segera kembali ke KPUD Propinsi.

Para pendukung dan simpatisan paket AFI, sebelum ke KPUD Kabupaten Kupang, terlebih dahulu mendatangi KPUD Propinsi NTT di Jalan Polisi Militer. Mereka diterima oleh Ketua KPUD Propinsi NTT, John Depa dan Marianti Luturmas.

Setelah menemui Ketua KPUD Propinsi, massa yang menggunakan kendaraan roda empat, truk serta kendaraan roda dua, beranjak menuju KPUD Kabupaten Kupang dan tiba sekitar pukul 11.30 wita. (mas)

Pos Kupang 30 September 2008 halaman 8

No responses yet

Sep 29 2008

1.088 DCS di NTT Ditetapkan

Published by dionbata under Pileg-Pilpres

KUPANG, SENIN - Sebanyak 1.088 calon anggota legislatif (caleg) DPRD Propinsi NTT ditetapkan Komisi Pemilihan Umum Daerah KPUD) NTT masuk dalam daftar calon sementara (DCS). Sedangkan caleg yang dinyatakan gugur karena tidak memenuhi syarat sebanyak 122 orang.

Demikian data yang diterima Pos Kupang dari Kelompok Kerja (Pokja) Pencalonan pada KPUD NTT, Senin (29/9/2008). KPUD NTT telah mengumumkan DCS yang terdiri dari nama caleg dan partai pengusung per daerah pemilihan, di antaranya dengan menempelkan pada papan informasi yang ada di sekretariat KPUD NTT dan pengumuman lewat media massa. Pada DCS itu tidak disertakan dengan foto caleg.

Jumlah caleg yang masuk DCS lebih sedikit dari target caleg yang ditetapkan yaitu 120 persen per alokasi kursi setiap daerah pemilihan atau setara secara keseluruhan berjumlah 2.508 orang. Pada masa pendaftaran, caleg yang didaftar 38 parpol sebanyak 1.396 orang. Pada masa perbaikan, yang memasukkan berkas sebanyak 1.210 caleg. Dari jumlah itu yang memenuhi syarat 1.088 orang, dengan rincian 750 laki-laki (68,93 persen) dan 338 perempuan (31,07 persen).

Caleg yang lolos memenuhi delapan hal prinsip, diantaranya semua dokumen caleg yang masuk harus lengkap dan bobot hukumnya sama. Yang berstatus PNS harus membuat surat pernyataan pengunduran diri dan surat pernyataan bahwa surat pengunduran diri sedang dalam proses. Dokumen yang difotokopi yaitu ijazah legalisir basah ditambah 2 fotokopi ijazah yang dilegalisir basah, serta SKCK harus sesuai dengan tempat domisili.

Berbeda dengan KPUD NTT, KPUD Timor Tengah Selatan hingga kemarin belum mengumumkan daftar nama-nama caleg. Belum ditetapkannya DCS terjadi lantaran masih terdapat partai yang belum memberikan paraf pada daftar caleg yang ada serta masih ada kesalahan penulisan nama caleg.

Anggota KPUD TTS, Ir. Rambu Mella yang dikonfirmasi di SoE, Senin (29/9/2008) membenarkan hal tersebut. Rambu mengakui sejak Jumat (26/9/2008) KPUD TTS sudah menghubungi pengurus partai untuk memparaf daftar nama dan urutan caleg. “Hingga kini ada tiga partai yang belum memparaf daftar nama dan urutan calegnya. Ketiga partai itu yakni, Partai Pelopor, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Pemuda Indonesia. Kami sudah menghubungi pengurus ketiga partai tersebut namun sampai sekarang belum ada yang datang,” ujar Rambu.

Untuk kesalahan penulisan nama, lanjut Rambu, KPUD TTS memutuskan nama yang dipakai sesuai dengan yang ada diijazah masing-masing caleg. Pasalnya ijazah dapat dijadikan sebagai patokan kebenaran penulisan nama seseorang.

Tentang jumlah DCS yang akan diumumkan, Rambu mengatakan sesuai hasil verifikasi KPUD TTS sebanyak 789 caleg sementara dari 37 partai akan diumumkan ke publik. Jumlah angka itu didapatkan setelah menyeleksi 798 berkas caleg yang masuk ke KPUD TTS.

Rambu merincikan dari 789 itu terdiri dari 562 caleg pria dan sisanya, 227 caleg perempuan. Dengan demikian total keterwakilan perempuan untuk sementara dalam pemilu 2009 sebesar 28,77 persen. Sementara bila dilihat dari masing-masing partai hanya 19 partai saja yang memenuhi kuota keterwakilan perempuan sebesar 30 persen. (ACA/ALY)

No responses yet

Next »