Archive for August, 2008

Aug 31 2008

Hidup Jangan Tertidur!

Published by dionbata under Renungan

UNTUK dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan tertidur. Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan tertidur.

Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu, tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.

Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tidak sadar!

Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya adalah rahmat terselubung karena dapat membuat kita bangun dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit. Anda baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol Anda mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Anda baru sadar nikmatnya bekerja kalau Anda di-PHK. Seorang wanita karier baru menyadari bahwa keluarga jauh lebih penting setelah anaknya terkena narkoba. Seorang sopir taksi pernah bercerita bahwa ia baru menyadari bahayanya judi setelah hartanya habis.

Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. Bayangkan kalau Anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang berlangsung seru ketika tiba-tiba listrik padam. Petugas bioskop berkata, Silakan Anda pulang, pertunjukan sudah selesai! Anda protes, bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. Tapi, si penjaga hanya berkata tegas, Pertunjukan sudah selesai, listriknya tidak akan pernah hidup kembali.

Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat dekat kita sering menyadarkan kita pada arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.

Hidup ini seringkali menipu dan meninabobokan orang. Untuk menjadi bangun kita harus sadar mengenai tiga hal, yaitu siapa diri kita, darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.

Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin, Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman- pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalam an manusiawi. Manusia bukanlah makhluk bumi melainkan makhluk langit. Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan rumah untuk mencari rumah yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.

Coba Anda resapi paragraf diatas dalam-dalam. Badan kita akan mati, tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau Anda menyadari hal ini, Anda tidak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya. Bila Anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup! Buat apa sibuk mengumpulkan kekayaan — apalagi dengan menyalahgunakan jabatan — kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati selama-lamanya. Apalagi Anda sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi.

Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang pahit tersebut agar kita sadar? Jawabnya: ya! Tapi kalau Anda merasa cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah: Belajarlah MENDENGARKAN.

Dengarlah dan belajarlah dari pengalaman orang lain. Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya bangun.

Bila lidah kelu, tulisan menjadi perlu Pena lebih tajam dari pedang Tinta seorang berilmu lebih mulia dari darah seorang semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin. (Ditulis oleh Arvan Pradiansyah, penulis buku You Are A Leader!. Dari milis kiriman mentorku, MA Maliki).

No responses yet

Aug 31 2008

NTT Emas

Published by dionbata under BETA

TUJUH belas tahun setelah meninggalkan kota karang Kupang, WJ Lalamentik menyaksikan Kupang yang sungguh berubah. Flobamora maju pesat. Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak berjalan di tempat. Lalamentik terharu.

“Saya begitu terharu mengelilingi Kota Kupang siang tadi, saya tidak ingat lagi di mana Kota Kupang lama, di mana perkantoran pemerintah yang ada di jaman saya…. saya hampir tidak dapat menahan air mata membayangkan perubahan begitu besar dari pembangunan ini.”

Gubernur pertama Propinsi NTT mengungkapkan perasaannya itu di Wisma Astiti-Kupang — tepat pada Hari Ulang Tahun ke- 25 Propinsi NTT, 20 Desember 1983 kepada trio editor buku 25 Tahun NTT, Apa Kata Mereka? (Sebuah bunga Rampai). Buku tersebut diterbitkan DPD I KNPI NTT tahun 1984. Kata-kata Lalamentik di atas tercetak di halaman 71.

Seandainya hari ini beliau melihat Kupang dan menatap wajah Flobamora, perubahan 25 tahun setelah 1983 itu kian mencengangkan. Lalamentik yang memimpin NTT pada masa sulit antara 1958-1966 bakal kagum, cukup dengan menatap perubahan fisik sepanjang WJ Lalamentik, jalan protokol yang mengabadikan namanya itu. Jalan yang letaknya persis di sisi Kantor Gubernur NTT, pusat segala aktivitas pemerintahan dan pembangunan daerah ini.

Dulu di sisi kiri dan kanan jalan itu sekadar hamparan sawah dan tanah kosong. Penuh pohon lontar, semak belukar dan tanah karang berbatu. Kini berjejer banyak gedung baru. Mulus. Warna-warni. Ada Pusat Perbelanjaan Flobamora, kantor Bank NTT yang megah, pertokoan, apotik 24 jam, rumah makan dan lain-lain.

Membaca kembali buku 25 Tahun NTT, sungguh terasa NTT berubah. Berubah oleh proses bernama pembangunan yang selalu berwajah ganda.

Ada kisah manis. Ada sisi pahit. Bukankah kita lebih suka mendengar kisah manis dan mengungkapkan hal-hal indah? Kisah indah segera terulang. Seratus sepuluh hari dari hari ini — NTT akan merayakan usia emas. Flobamora akan berpesta. Berja’i ria, poco-poco dan dansa karena pendapatan perkapita rakyat melesat pesat. Angkanya Rp 4,3 juta.

Luar biasa bila dibanding NTT awal. Harapan hidup 65,1 tahun. Makin panjang umur orang NTT. Jumlah penduduk kian gemuk. Naik lebih dari 100 persen dibanding tahun 1958 yang menurut Lalamentik cuma 1,8 juta jiwa. NTT telah beranak-pinak. Ada jarak merentang antara 1958, 1983, 2008. Jauh beda wujud dan rupa Flobamora.

***

BUKU 25 Tahun NTT berisi pikiran, pandangan dan harapan dari 21 tokoh terkemuka, tua dan muda. Sebagian dari mereka telah tiada. Namun, masih banyak yang hidup dan berkiprah di bidangnya masing-masing. Editornya, Alo Liliweri, Egi Didoek, Ignas Kulas. Buku setebal 358 halaman itu dicetak pada Percetakan Arnoldus Nusa Indah Ende. Semoga masih ada di Perpustakaan Daerah NTT.

Sebuah buku yang bagus. Buku yang relevan dibaca kembali di tengah hiruk pikuk pilkada, gaduh dan riuh suara caleg, rayuan gombal para calon presiden. Buku tua. Buku langka. Buku yang menurut hemat beta sebuah “maha karya” sekelompok anak muda NTT masa itu — mengingat begitu banyak pesan, harapan dan impian yang belum terwujud. Bahkan hingga NTT merayakan usia emas 20 Desember 2008. Buku itu menjadi cermin, NTT melapuk atau mekar mewangi?

Teringat kata-kata Goethe, Sebab usia sebenarnya adalah kesempatan itu sendiri. Sebagaimana kemudaan, meski dalam busana yang lain. Dan tatkala senja berlalu, angkasa dipenuhi bintang yang tak terlihat di siang hari…

Bintang apa di langit Flobamora yang hendak kita raih 50 tahun dari sekarang? Usia Emas ini terlalu sedih dilewatkan begitu saja. Tanpa pesan, tanpa kata-kata. Tanpa aksi setara emas. NTT Emas begitu samar. Nyaris tak terdengar gema gaungnya! (email: dionbata@poskupang.co.id)

Rubrik Beranda Kita (BETA) Pos Kupang edisi Senin, 1 September 2008, halaman 1

No responses yet

Aug 30 2008

Bergegas Meraih Harapan

Published by dionbata under Koleksi Dion, Perjalanan

Aceh selayang pandang (1)

TANGAN Mulyono dan Najib bergerak lincah. Mulyono menyalakan kompor gas, mengisi minyak goreng, nasi dan irisan daging ayam ke dalam kuali besar lalu mengaduk-aduk nasi itu. Najib menyiapkan piring, senduk, garpu, sambal, garam, kecap, tisu serta air putih. Dia juga menawarkan minuman. “Mau coba kopi Aceh Pak?,” katanya ramah. Kepala tiga orang pria setengah baya yang sedang lapar setelah perjalanan 14 jam Kupang-Banda Aceh mengangguk serentak. Tanda setuju.

Kurang dari sepuluh menit, Mulyono dan Najib, dua orang pemuda berusia 20-an tahun itu telah menyajikan tiga piring nasi goreng bersama secangkir kopi hitam di hadapan kami. “Silakan Pak,” tutur Mulyono yang ayah ibunya asal Jawa Tengah. Mulyono lahir dan besar di Medan.

Tak banyak cakap, Indra Alfian Syahril, Pieter Erasmus Amalo dan saya menyantap hidangan itu. Jarum jam menunjukkan pukul 23.48 WIB. Hari nyaris berganti tetapi raungan sepeda motor dan bunyi mesin mobil masih menderu-deru di Jalan T Panglima Nyak Makam. Jalan dua jalur di depan warung, tempat kami mengaso sambil menghilangkan haus dan lapar malam itu.

Warung Najib-Mulyono letaknya kurang lebih 200 meter dari Hermes Palace Hotel, tempat kami cek in sekitar 30 menit sebelumnya. Hotel itu dipilih panitia sebagai tempat penyelenggaraan Kongres XXII Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tanggal 28-29 Juli 2008. Hotel baru. Megah, apik dan nyaman.

Benar kata-kata rekan wartawan yang menjemput kami di Bandara Iskandar Muda bahwa sekarang tidak sulit mencari makan di Kota Banda Aceh pada malam hari. Selalu ada warung yang buka sampai tengah malam. Tinggal pilih menu sesuai selera, mau masakan Jawa, Madura, Makassar, Sunda, Cina, Batak atau lainnya.

Menurut Najib, aktivitas warung pinggir jalan itu mulai pukul 19.00 sampai 24.00 WIB. “Selalu selalu ada yang makan di sini. Kalau sedang ramai kami baru tutup jam satu malam. Sebelum perjanjian damai, kami tutup jam delapan malam,” kata Najib. Ya, Banda Aceh bukan lagi kota mati dan mencekam. Bukan kota pesisir paling utara Pulau Sumatera yang warganya memilih tidur lebih awal karena konflik panjang antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Indonesia.

Lebih mengesankan lagi Banda Aceh sekarang sungguh bersih dari jejak gempa dan tsunami terdasyat dalam sejarah dunia yang terjadi pada 26 Desember 2004 yang menelan korban jiwa lebih dari 150.000 jiwa. Dalam kurun waktu tiga setengah tahun sejak bencana itu, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) berbenah dalam banyak bidang. Pembenahan fisik paling dominan. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias yang dibentuk Pemerintah Pusat agaknya sungguh bekerja meski di sana-sini pasti ada saja kekurangan.

Wajah Aceh yang berubah telah terlihat sejak kami tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda dengan penerbangan Lion Air, Minggu malam 27 Juli 2008. Alat berat dan tumpukan material bangunan langsung menggoda mata. Bandara tersebut rupanya sedang dikembangkan secara besar-besaran, baik lebar dan panjang landasan pacu maupun fasilitas pendukungnya. Iskandar Muda akan menjadi bandara termegah di Pulau Sumatera, bahkan kapasitasnya bisa melebihi Bandara Polonia-Medan.

Indra Alfian, Sekretaris PWI Cabang NTT, terkejut ketika mengetahui mobil mulus dan baru yang dipakai menjemput kami dari bandara malam itu adalah milik PWI Perwakilan Aceh Tengah. “Wah, PWI Perwakilan saja punya mobil operasional sendiri, apalagi PWI Cabang Aceh,” kata Indra.

Organisasi profesi seperti PWI mempunyai mobil operasional memang langka. Tapi tidak luar biasa buat Aceh pasca tsunami 2004. Makin jauh menelusuri Kota Banda Aceh, semakin banyak dan biasa Anda menemukan mobil baru produk dalam dan luar negeri yang berseliweran memenuhi jalan kota. Di beberapa titik di dalam kota terjadi kemacetan arus lalulintas.

Aceh 2008 adalah Aceh yang bergairah. Aceh yang bergegas meraih harapan. Hidup damai- sejahtera seperti saudaranya di wilayah lain NKRI. Jalanan mulus, taman kota tertata rapi serta bangunan baru bermunculan di mana-mana. Pria dan wanita berwajah Eropa, Amerika dan Asia Timur pun mudah ditemui di banyak tempat. Di pasar-pasar, kedai kopi, pertokoan, di Simpang Lima, muara Sungai Krueng Aceh atau di halaman Mesjid Baiturrahman. Disamping wisatawan yang sedang melancong, mereka adalah aktivis lembaga internasional di NAD. Mereka membaur dengan warga lokal Aceh yang umumnya ramah menyapa dan tidak pelit senyum.

Saat melintas di kawasan Leung Bata, teringat tayangan televisi empat tahun silam. Leung Bata penuh sesak dengan tumpukan mayat korban gempa-tsunami. Kini bersih dan rapi. Banyak gedung baru. Jika ada tempat yang masih menyisakan “bekas” tsunami, maka datanglah ke Desa Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Kapal nelayan yang bertengger di atas rumah itu masih dipertahankan Pemerintah Kota Banda Aceh untuk mengenang musibah tahun 2004.

Tsunami menghempaskan kapal itu sejauh 3 km dari pesisir pantai. Ada prasasti dengan kata- kata berikut. “Kapal nelayan ini dihempas gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 hingga tersangkut di rumah ini. Kapal ini menjadi bukti penting betapa dasyatnya musibah tsunami tersebut. Berkat kapal ini 59 orang terselamatkan dalam kejadian itu.”

Jejak lain adalah Kuburan Massal di Jl. Sultan Iskandar Muda yang kini menjadi obyek wisata. Sebelum tsunami, di lokasi itu berdiri Rumah Sakit Meuraxa. Rumah sakit itu tak berbekas digilas tsunami dan halamannya dijadikan pemakaman massal. Memandang ribuan nisan berjejer, beragam rasa menyeruak. (Dion DB Putra/bersambung)

Pos Kupang edisi Selasa 26 Agustus 2008 halaman 1

No responses yet

Next »