Archive for June, 2008

Jun 30 2008

Ayin

Published by dionbata under BETA

SEANDAINYA hari ini ada kontes memilih perempuan Indonesia terpopuler, maka pilihan beta akan jatuh pada Artalytha Suryani alias Ayin. Dia wanita cantik, matang, kaya dan terkenal. Sejak 2 Maret 2008, namanya menghiasi media massa cetak dan elektronik. Tak putus-putusnya. Tiada hari tanpa Ayin.

Ayin memang sudah tercatat dalam buku sejarah hukum Republik Indonesia. Dia akan dikenang selalu. Mewariskan sesuatu bagi negeri ini sejak Jaksa Urip Tri Gunawan ditangkap aparat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di rumahnya 2 Maret 2008. Urip dibekuk setelah menerima uang Rp 6 miliar dari Ayin. Posisi hukum Ayin adalah terdakwa penyuapan terhadap Urip. Proses persidangan masih bergulir.

Hebohnya belum berakhir. Dari hari ke hari, Ayin menguak banyak tabir misteri. Misteri yang membuat gedung bundar Kejaksaan Agung (Kejagung) Jakarta bergetar dan merinding. Tak perlu menjelaskan panjang lebar tentang inti cerita. Indonesia sudah tahu dan maklum. Betapa hukum bisa diperjualbelikan. Ujung- Ujungnya Duit. Betapa Panggung Sandiwara penegakan hukum negeri tercinta tak cuma judul lagu karya Ian Antono-Taufik Ismail yang dipopulerkan Ahmad Albar. Melalui Ayin kabar-kabur berpuluh tahun tentang mafia peradilan, tentang aparat penegak hukum yang bisa “dibeli” kini sungguh nyata dan terang-benderang.

Kisah Ayin di pengadilan “menelan korban”. Korban positif untuk menegakkan martabat institusi kejaksaan. Jaksa Agung berani membersihkan rumah sendiri mulai dari langit-langit. Setelah Kemas Yahya Rahman dibebastugaskan dari jabatannya sebagai Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) gara-gara anak buahnya Urip menerima suap 660.000 dolar AS dari Ayin, pada tanggal 26 Juni 2008 Jaksa Agung Muda Perdata Tata Usaha Negara (Jamdatun), Untung Udji Santoso dicopot dari jabatannya oleh Jaksa Agung, Hendarman Supanji. Kabar terbaru menyebutkan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel), Wisnu Subroto yang namanya disebut-sebut dalam percakapan Untung-Ayin dalam “skenario penyelamatan Ayin” oleh Kejagung — juga mundur.

Ayin laksana virus yang cepat menyebar lewat udara. Ayin menghentak kesadaran. Melecut aksi nyata. Sejak penangkapan Urip, kinerja kejaksaan dalam menangani kasus korupsi jauh lebih baik. Tak sedikit kepala kejaksaan negeri, kepala kejaksaan tinggi dicopot dari jabatannya karena kinerja buruk — sesuatu yang langka di masa lalu.

“Virus Ayin” agaknya merembet juga ke rumah Flobamora. Di kampung besar kita, penyidik kejaksaan telah berani menahan tersangka korupsi, kendati masih kecil- kecilan. Beberapa contoh bisa disebut. 11 Juni 2008: aparat Kejaksaan Negeri SoE menahan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS, Drs. Marthen Nenabu, M.Pd. Nenabu ditahan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi rehabilitasi situs bersejarah Sonaf Ajobaki senilai Rp 325 juta.

23 Juni 2008: penyidik Kejari Bajawa menahan mantan Kepala Desa Lanamai, Marianus Amalo karena diduga menjual beras untuk rakyat miskin (Raskin) di Desa Lanamai, Kecamatan Riung Barat tahun 2006-2007 kepada seorang pengusaha di Bajawa. Perbuatan Amalo dalam tiga kasus tindak pidana korupsi merugikan negara Rp 82.206.680. Sebelumnya, Kejari Bajawa menangkap Roberth M.Say, tersangka kasus dugaan korupsi dana bantuan pembangunan SMK Sanjaya-Bajawa 2001-2007.

24 Juni 2008: Penyidik Kejaksaan Tinggi NTT menahan Yeni Amelia, tersangka kasus dugaan korupsi dana perjalanan dinas (SPPD) fiktif tahun 2007 di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTT. Itu contoh keseriusan aparat kejaksaan. Semakin banyak penahanan tersangka korupsi semakin baik. Kerinduan kita adalah menahan tanpa pandang bulu. Kakap dan teri sama manusia. Jangan kakap bebas- merdeka.

Besok, 1 Juli 2008, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) akan merayakan hari Ulang Tahun (HUT) ke-62. Terbayang di mata, polisi di kampung Flobamora memiliki keberanian yang sama seperti aparat kejaksaan yang kini giat menangkap dan rajin menahan. Khususnya kasus tindak pidana korupsi.

Polri tak harus menunggu tokoh semacam Ayin baru bergerak. Berani tahan dan proses hukum secepatnya termasuk “saudara sendiri” semisal kasus dugaan pemalsuan dokumen pembelian mobil di Sumba Timur dan Kupang yang sampai detik ini belum tahu ending-nya seperti apa. Polisi membersihkan rumah sendiri. Mungkin ini kado istimewa HUT ke-62. Dirgayahu Polri. Terima kasih Ayin! (email: dionbata@yahoo.com)

Beranda Kita Pos Kupang edisi Senin, 30 Juni 2008, halaman 1

One response so far

Jun 30 2008

Ayin

Published by dionbata under BETA

SEANDAINYA hari ini ada kontes memilih perempuan Indonesia terpopuler, maka pilihan beta akan jatuh pada Artalytha Suryani alias Ayin. Dia wanita cantik, matang, kaya dan terkenal. Sejak 2 Maret 2008, namanya menghiasi media massa cetak dan elektronik. Tak putus-putusnya. Tiada hari tanpa Ayin.

Ayin memang sudah tercatat dalam buku sejarah hukum Republik Indonesia. Dia akan dikenang selalu. Mewariskan sesuatu bagi negeri ini sejak Jaksa Urip Tri Gunawan ditangkap aparat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di rumahnya 2 Maret 2008. Urip dibekuk setelah menerima uang Rp 6 miliar dari Ayin. Posisi hukum Ayin adalah terdakwa penyuapan terhadap Urip. Proses persidangan masih bergulir.

Hebohnya belum berakhir. Dari hari ke hari, Ayin menguak banyak tabir misteri. Misteri yang membuat gedung bundar Kejaksaan Agung (Kejagung) Jakarta bergetar dan merinding. Tak perlu menjelaskan panjang lebar tentang inti cerita. Indonesia sudah tahu dan maklum. Betapa hukum bisa diperjualbelikan. Ujung- Ujungnya Duit. Betapa Panggung Sandiwara penegakan hukum negeri tercinta tak cuma judul lagu karya Ian Antono-Taufik Ismail yang dipopulerkan Ahmad Albar. Melalui Ayin kabar-kabur berpuluh tahun tentang mafia peradilan, tentang aparat penegak hukum yang bisa “dibeli” kini sungguh nyata dan terang-benderang.

Kisah Ayin di pengadilan “menelan korban”. Korban positif untuk menegakkan martabat institusi kejaksaan. Jaksa Agung berani membersihkan rumah sendiri mulai dari langit-langit. Setelah Kemas Yahya Rahman dibebastugaskan dari jabatannya sebagai Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) gara-gara anak buahnya Urip menerima suap 660.000 dolar AS dari Ayin, pada tanggal 26 Juni 2008 Jaksa Agung Muda Perdata Tata Usaha Negara (Jamdatun), Untung Udji Santoso dicopot dari jabatannya oleh Jaksa Agung, Hendarman Supanji. Kabar terbaru menyebutkan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel), Wisnu Subroto yang namanya disebut-sebut dalam percakapan Untung-Ayin dalam “skenario penyelamatan Ayin” oleh Kejagung — juga mundur.

Ayin laksana virus yang cepat menyebar lewat udara. Ayin menghentak kesadaran. Melecut aksi nyata. Sejak penangkapan Urip, kinerja kejaksaan dalam menangani kasus korupsi jauh lebih baik. Tak sedikit kepala kejaksaan negeri, kepala kejaksaan tinggi dicopot dari jabatannya karena kinerja buruk — sesuatu yang langka di masa lalu.

“Virus Ayin” agaknya merembet juga ke rumah Flobamora. Di kampung besar kita, penyidik kejaksaan telah berani menahan tersangka korupsi, kendati masih kecil- kecilan. Beberapa contoh bisa disebut. 11 Juni 2008: aparat Kejaksaan Negeri SoE menahan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS, Drs. Marthen Nenabu, M.Pd. Nenabu ditahan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi rehabilitasi situs bersejarah Sonaf Ajobaki senilai Rp 325 juta.

23 Juni 2008: penyidik Kejari Bajawa menahan mantan Kepala Desa Lanamai, Marianus Amalo karena diduga menjual beras untuk rakyat miskin (Raskin) di Desa Lanamai, Kecamatan Riung Barat tahun 2006-2007 kepada seorang pengusaha di Bajawa. Perbuatan Amalo dalam tiga kasus tindak pidana korupsi merugikan negara Rp 82.206.680. Sebelumnya, Kejari Bajawa menangkap Roberth M.Say, tersangka kasus dugaan korupsi dana bantuan pembangunan SMK Sanjaya-Bajawa 2001-2007.

24 Juni 2008: Penyidik Kejaksaan Tinggi NTT menahan Yeni Amelia, tersangka kasus dugaan korupsi dana perjalanan dinas (SPPD) fiktif tahun 2007 di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTT. Itu contoh keseriusan aparat kejaksaan. Semakin banyak penahanan tersangka korupsi semakin baik. Kerinduan kita adalah menahan tanpa pandang bulu. Kakap dan teri sama manusia. Jangan kakap bebas- merdeka.

Besok, 1 Juli 2008, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) akan merayakan hari Ulang Tahun (HUT) ke-62. Terbayang di mata, polisi di kampung Flobamora memiliki keberanian yang sama seperti aparat kejaksaan yang kini giat menangkap dan rajin menahan. Khususnya kasus tindak pidana korupsi.

Polri tak harus menunggu tokoh semacam Ayin baru bergerak. Berani tahan dan proses hukum secepatnya termasuk “saudara sendiri” semisal kasus dugaan pemalsuan dokumen pembelian mobil di Sumba Timur dan Kupang yang sampai detik ini belum tahu ending-nya seperti apa. Polisi membersihkan rumah sendiri. Mungkin ini kado istimewa HUT ke-62. Dirgayahu Polri. Terima kasih Ayin! (email: dionbata@yahoo.com)

Beranda Kita Pos Kupang edisi Senin, 30 Juni 2008, halaman 1

One response so far

Jun 29 2008

Jerman adalah Jerman

Published by dionbata under Catatan sepakbola

Catatan sepakbola Dion DB Putra

MENARIK nian pernyataan Pelatih Spanyol, Luis Aragones menjelang pertandingan final Piala Eropa 2008 melawan Jerman. “Kami berhak juara, tetapi Jerman adalah Jerman. Mereka punya mental juara menghadapi siapa saja. Kami harus lebih beringas. Secara fisik Jerman lebih kuat. Kami perlu bermain dengan langkah yang cermat agar lawan kelelahan sendiri.”

Apakah dengan mengatakan begitu Aragones gentar menghadapi Jerman? Jangan salah. Aragones adalah kesatria Catalan yang jujur. Ia tidak menutup mata terhadap rekam jejak Der Panzer. Juara Piala Dunia tiga kali, juara Eropa tiga kali dan lima kali masuk final Euro. Jerman yang tahun ini berada di final Piala Eropa keenam menyimpan rekor yang tidak dimiliki tim lain di Eropa. Untuk level Piala Dunia, rekor Jerman cuma kalah tipis dari Brasil dan Italia.

Jerman adalah Jerman merupakan sebuah pengakuan. Di level klub, apa artinya Bundesliga dibanding La Liga Primera? Prestasi tim-tim Bundesliga Jerman kurang gemerlap dibandingkan klub Spanyol di kompetisi Eropa. Liga Spanyol merupakan surga bagi para pemain bintang seluruh dunia. Bundesliga lebih bermaterikan pemain lokal dan bintang kelas dua. Namun, jangan tanya kalau Jerman sudah mengenakan kostum tim nasional. Mental bertanding dan kekuatan fisik mampu menutup kelemahan teknis. Jerman hampir selalu menuai hasil terbaik dalam kompetisi antarnegara.

Pertandingan final Minggu malam atau Senin (30/6/2009) dinihari Wita di Stadion Ernst Happel-Vienna kembali menguji daya tahan Jerman. Malam pembuktian siapa akan menjadi Raja Eropa 2008. Dan, Aragones telah memberi sinyal jelas bagi Pelatih Jerman, Joachim Loew. “Kami harus lebih beringas. Kami perlu bermain dengan langkah yang cermat agar lawan kelelahan sendiri.”

Membuat lawan kelelahan sendiri merupakan filosofi pertarungan manusia melawan banteng di Spanyol yang disebut matador (pembunuh). Manusia yang disebut torero bermodalkan muleta, sepotong kain merah sebagai tameng. Kain itu dikibar-kibarkan torero guna memancing amarah banteng serta mengalihkan perhatiannya. Banteng seruduk ke sana-sini. Menerjang sekuat mungkin. Si matador cukup mengatur langkah dengan cermat. Gesit menghindar, cerdik memutar. Meliuk-liuk di lapangan. Lama kelamaan banteng beringas kehabisan stamina. Matador tinggal mengakhiri hidupnya. Selesailah sudah!

Pasukan Beruang Merah yang gagah perkasa merupakan korban paling akhir. Korban ke-21 tim Aragones secara beruntun. Realita itu diakui Pelatih Rusia, Guus Hiddink. “Mereka punya senjata yang membuat para pemain kami kelelahan. Kami tak sanggup bangkit pada babak kedua,” kata Hiddink usai timnya dipermalukan Spanyol 3-0 di semifinal.

***

BERMAIN dengan cermat kiranya kembali menjadi pilihan Spanyol menghadapi badai staying power Jerman malam ini. Aragones mungkin tidak mengutak-atik the winning team yang terdiri dari Iker Casillas, Sergio Ramos, Carles Puyol, Carlos Marchena, Joan Capdevilla, Marcos Senna, Andres Iniesta, Xavi, David Silva, David Villa dan Fernando Torres. Jika David Villa belum fit akibat cedera saat melawan Rusia di semifinal, hampir pasti Cesc Fabregas menjadi starter. Fabregas akan berkolaborasi dengan Xavi Hernandez sebagai pengatur serangan sekaligus motor Spanyol guna mengimbangi kuartet gelandang Jerman di bawah komando Michael Ballack. Formasi Aragones adalah 4-5-1 atau 4-4-1-1.

Kedua tim mungkin memilih formasi yang sama yaitu cuma memasang striker tunggal. Itu berarti Joachim Loew mengulang taktik melawan Turki di semifinal. Waktu itu, Loew tidak memakai dua striker murni seperti biasa melalui Miroslav Klose dan Mario Gomez. Klose sendiri diapit dua sayap lincah Lukas Podolski di kiri dan Bastian Schweinsteiger di kanan.

Loew sangat berharap kontribusi kedua pemain tersebut dalam membongkar pertahanan Spanyol sekaligus memberi umpan terukur kepada Klose. Jika Podolski dan Schweinsteiger dijegal, Philip Lahm, Torsten Frings dan Ballack bisa menjadi ancaman dari lini kedua. Frings agaknya masuk sejak menit awal guna melapis Ballack. Tanpa Frings, Ballack kehilangan tandem ideal di lapangan tengah. Saat melawan Turki, masuknya Frings sebagai pemain pengganti mengubah irama permainan Jerman.

Aragones akan memberi tugas khusus kepada Carlos Marchena dan Marcos Senna mengawal Podolski. Sergio Ramos akan adu kuat dengan Bastian Schweinsteiger. Calos Puyol berhadapan satu satu dengan Klose. Untuk mematikan bola-bola atas, Puyol dibantu Ramos dan Senna. Tugas Xavi dan Fabregas mengawal Ballack agar tidak terlalu mengacam gawang Iker Casillas.

Aragones kiranya membangun “tembok Berlin” di area 16 meter karena Jerman piawai melepaskan tembakan gledek jarak jauh. Kesalahan sedapat mungkin minim di kawasan itu karena akan menguntungkan Jerman melepaskan bola mati terukur. Tapi Spanyol beruntung memiliki kapten sekaligus kiper sekaliber Casillas. Tatapan matanya menakutkan lawan.

Di kubu Jerman, perhatian mereka akan tertuju pada Xavi, Fabregas dan Torres. Tugas itu akan dimainkan dua pilar terakhir, Christoph Metzelder dan Per Mestesacker. Keduanya dibantu Arne Friedrich dan Frings. Christoph Metzelder adalah kawan akrab Casillas dan Sergio Ramos di klub Real Madrid. Demi kehormatan bangsa, pertemanan tentu diabaikan sejenak. Jika Tores atau Villa diganjal, Jerman harus cepat menghentikan David Silla, Xavi atau Ramos yang biasanya muncul tiba-tiba di kotak penalti. Sedemikian jauh, Torres sering menjadi pelayan bagi gelandang serang Spanyol untuk menghasilkan gol. Kunci permainan Jerman vs Spanyol akhirnya terletak di lapangan tengah. Ballack bentrok dengan Xavi atau Fabregas.

Materi pemain kedua tim sama bagus. Soliditas tim pun sudah teruji. Jerman pernah kalah dan menang. Spanyol menang terus. Rasa percaya diri sedang di ubun-ubun. Tidak dapat mengatakan salah satu finalis lebih diunggulkan dan yang lain underdog. Inilah final ideal. Pemenang tergantung daya tahan dan konsentrasi selama 90 menit. Semoga tidak terjadi antiklimaks sehingga pertandingan berakhir dalam waktu normal seperti final 2004 antara Yunani vs Portugal.

Campeone! Buku sejarah Eropa akan menulis sang juara malam ini. Spanyol menebus kerinduan 44 tahun atau Jerman menambah koleksi keempat setelah 1972, 1980 dan 1996.

Menurut penyair Ludwig Harig, bola adalah seni yang dihasilkan oleh kaki, karena itu di dalamnya juga tersimpan inspirasi dan misteri. Sudah pasti bola adalah seni dan sumber inspirasi yang tak pernah habis diulas dan ditulis. Dikuras tak pernah berkurang pesonanya. Tapi siapa juara Eropa 2008, masih sebuah misteri. Jadi, sebaiknya Anda menonton akhir fiesta Austria-Swiss 2008. Menanti sampai wasit asal Italia, Roberto Rosetti (40) meniup peluit panjang. **

Pos Kupang edisi Minggu, 29 Juni 2008 halaman 1

No responses yet

Next »