Archive for May, 2008

May 26 2008

Semua usung perspektif gender

Published by dionbata under Pilkadal 2008

GENDER — Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, dari kiri, Ibrahim
A Medah, Gaspar Ehok, Julius Bobo, Frans Lebu Raya dan Esthon Foenay.
Mereka memaparkan visi dan misi dalam Dialog Publik tentang
Peningkatan Kualitas Pemberdayaan Perempuan
yang diselenggarakan Forum Komunikasi Pemerhati
dan Perjuangan Hak-hak Perempuan (Forkom P2HP)
NTT di Aula EL Tari Kupang, Senin (26/5/2008).
PAKET Fren (Frans Lebu Raya - Esthon Foenay), Gaul (Gaspar P Ehok- Julius Bobo) dan Paket Tulus (Ibrahim A Medah-Paulus Moa) mengaku berperspektif gender. Ketiga paket ini mengatakan, apabila mereka terpilih menjadi Gubernur-Wakil Gubernur NTT periode 2008-2013, mereka akan membuat kebijakan anggaran yang berperspektif gender.

Paket Fren, Gaul dan Tulus menyampaikan itu dalam Dialog Publik tentang Peningkatan Kualitas Pemberdayaan Perempuan di Bidang Pendidikan, Kesehatan Ibu dan Anak serta Bidang Ekonomi, yang diselenggarakan Forum Komunikasi (Forkom) Pemerhati dan Perjuangan Hak-hak Perempuan (P2HP) NTT di Aula EL Tari-Kupang, Senin (26/5/2008). Dialog Publik yang diakhiri dengan penandatanganan Deklarasi ini merupakan yang kedua kalinya. Pekan lalu, para calon pemimpin NTT diajak dialog tentang masalah kesehatan.

Lebu Raya yang hadir bersama Esthon mendapat kesempatan pertama untuk berbicara dalam acara ini., disusul Gaspar yang juga hadir didampingi Julius Bobo. Kesempatan ketiga diberikan kepada Medah yang saat ini hadir tanpa didampingi Paulus Moa.

Bertindak selaku panelis, Dr. Yanuarius Koli Bau, dr. Hironimus Fernandez, Rm. Leo Mali, Pr dan Prof. Dr. Mien Ratoe Oedjoe.
“APBD kita sangat terbatas, sekitar 1 triliun 50 miliar rupiah. Akan dibicarakan agar anggaran berspektif gender. Akan dikembangkan paradigma anggaran “Anggur Merah” yaitu Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera, diantaranya untuk kepentingan perlindungan perempuan dan anak,” kata Lebu Raya.

Dia mengatakan, agenda pemberdayaan perempuan dan anak adalah peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan serta kesehjateraan anak yang mencakup peningkatan pemberdayaan perempuan untuk menjelmakan keadilan dan kesetaraan gender, meningkatkan pendapatan perempuan, meningkatkan pemahaman dan aplikasi pengarusutamaan gender serta peningkatan perlindungan hukum bagi perempuan terhadap segala bentuk eksploitasi dan kekerasan, serta meningkatkan jaminan kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi anak.

“Akan dibangun kerjasama/kemitraan dengan LSM lokal dan internasional serta bupati/walikota untuk pemberdayaan perempuan dan anak. Perempuan dan laki-laki ibarat dua sayap seekor burung. Saling mendukung,” katanya.

Gaspar Ehok mengatakan, perempuan yang memiliki posisi penting dalam masyarakat harus diberi porsi yang besar dalam pembangunan. Selama ini, pendidikan dan kesehatan perempuan di NTT sangat rendah. Perlu kebijakan anggaran yang responsif gender.

Gaspar berjanji akan mendorong peningkatan ekonomi masyarakat dan meningkatkan partisipasi perempuan dalam politik. “Program kami diantaranya pemberdayaan ekonomi rakyat. Agar ekonomi kuat maka perlu pemberdayaan ekonomi formal lewat rumah tangga. Program ini dimanfaatkan oleh ibu rumah tangga,” kata Gaul.

Ibrahim Medah mengatakan, akan memperkuat peranan masyarakat, khususnya perempuan dan anak agar bisa bersama membangun NTT.
“Khusus perempuan kami akan membuat regulasi agar semua SKPD memprogramkan pengarusutamaan gender. Selama ini birokrasi belum beri ruang kepada perempuan. Oleh karena itu, perlu ada kebijakan anggaran yang responsif gender,” kata Medah.

Dia juga mengatakan akan memperkuat kelembagaan perempuan dalam struktur pemerintah daerah serta merespon sesegera mungkin berbagai persoalan sosial yang menimpa perempuan dan anak. Selain itu, memberi akses pelayanan pendidikan dan kesehatan yang mudah kepada perempuan dan anak.

Kegiatan dialog publik ini ditutup dengan penandatangan “kontrak” oleh calon gubernur, para panelis, Ketua Forkom P2HP NTT, Ny. Dra. Mien Pattymangoe, Ny. Inche DP Sayuna, SH, M.Hum dan unsur pers yang diwakili Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang NTT, Dion DB Putra. (aca)

Pos Kupang edisi Selasa, 27 Mei 2008, halaman 8

No responses yet

May 26 2008

“Pemimpin Gila”

Published by dionbata under BETA

“DIBUTUHKAN pemimpin gila untuk sedikit mengubah keadaaan sekarang. Jangan salah paham, maksud saya adalah pemimpin yang mampu melahirkan ide gila untuk membangun Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia juga berani memikul resiko, bahkan ‘cuek bebek’ saja dicap gila karena melawan arus.”
Demikian isi salah satu surat yang masuk ke alamatku beberapa hari lalu. Surat elektronik dari seorang sahabat. Dia anak NTT yang sedang menimba ilmu di luar Kupang. Dari sisi usia dan pengalaman, dia anak kemarin sore. Masih hijaulah.

Namun, suratnya inspiratif. Caranya menyentil patut direnungi. Malah lebih cocok disebut provokasi. Dia memprovokasi cara berpikir untuk “menemukan” pemimpin gila, berani pikul resiko dan mau melawan arus umum. Wah, sulit bung!

Pemimpin gila, apa relevansinya dengan rumah Flobamora hari ini? Bukankah dalam sejarahnya yang panjang, NTT memiliki pemimpin dengan ide gila dan berani ambil resiko? Bukankah Flobamora tidak kekurangan orang-orang berani? Tidak cuma berani, tetapi cakap dan mampu merealisasikan “ide gila”guna meningkatkan kesejahteraan rakyat. Siapakah dia — tak mesti disebut dalam ruang terbatas ini!

Ide gila tentu maksudnya gagasan yang tidak biasa. Langkah gila artinya tindakan tak lazim. Tak latah mengikuti arus umum. Pemimpin yang memiliki ide gila niscaya rakyat akan tergila-gila padanya. Kita agaknya butuh pemimpin dengan kapasitas semacam itu. Dalam lima tahun ke depan, NTT butuh pemimpin dengan “program gila” yang dapat menekan sekecil mungkin anak NTT yang menderita busung lapar dan gizi buruk. Keterlaluan kalau setiap tahun kita jatuh ke lubang yang sama terus. Jatuh dan jatuh lagi. Malu kita.

Guna mengatasi pengangguran yang bikin pening kepala para orangtua di NTT, kita dambakan pemimpin yang berani buat gebrakan. Misalnya, program stop kirim TKI bermodal otot! Saatnya NTT kirim TKI berotak. Kerjanya tidak semata jaga ladang majikan, petik sawit, buruh bangunan atau memasak, seterika dan rawat anak tuan dan nyonya di Malaysia, Singapura, Hongkong.

Sudah waktunya NTT kirim TKI yang lebih berkelas semisal perawat, guru, sopir, koki, pemandu wisata, tukang las, operator mesin atau tenaga IT ke Australia, Belanda, Timur Tengah, Korea, Taiwan, Cina, Timor Leste atau negara mana pun yang butuh. Untuk jangka panjang, NTT kirim para manajer high class seperti sukses diperlihatkan India dan Filipina, dua negara Asia yang sama miskinnya dengan Indonesia. Maka si pemimpin membuat program imajiner: “Dalam lima tahun mencetak satu juta anak NTT cakap berbahasa Inggris”. Bila perlu ditambah mahir bahasa Mandarin mengingat pemakai dua bahasa itu terbanyak di dunia. Bahasa internasional.

Saban tahun dia mengalihkan sebagian APBD untuk program bahasa Inggris- Mandarin bagi lulusan SMK, Poltekes, dan lain-lain. Setiap tahun pemimpin itu menggunting pita, simbolis mengirim 500-1.000 TKI berotak ke Australia, Belanda. Dia tidak lagi bangga sekadar menghadiri panen perdana ini dan itu. Dia berprinsip baik adanya mencetak tenaga kerja NTT berkompetensi internasional ketimbang APBD hanya dipakai untuk studi banding yang hasilnya remang-remang saja.

Kita juga butuh pemimpin dengan “ide gila” guna mengalihkan perhatian rakyat ke laut. Dua pertiga wilayah NTT adalah laut yang kaya-raya, tetapi rakyat lebih suka daratan yang kurus, kering dan terbatas. Kekayaan laut menjadi sumber kemakmuran orang lain. Kalau rakyat tetap malas, sesekali pakai sedikit tangan besi. Toh pembangunan bukan tanpa resiko dan korban. Yang perlu dikawal adalah meninimalisir korban. Singapura maju justru karena demokrasi ala Lee Kuan Yew bergaya “tangan besi”. Maka hidup mereka makmur-sentosa. Teratur, taat hukum, disiplin dan jadi negara papan atas dunia.

Di Kota Kupang pekan lalu sudah ada semacam kontrak hitam putih di bidang kesehatan. Ada deklarasi moral dengan para calon pemimpin. Dalam pekan ini akan muncul deklarasi dalam bidang lain, misalnya ekonomi, sosial budaya dan politik. Mudah-mudahan deklarasi itu akan melahirkan pemimpin yang tidak marah dicap “gila” saat dia mundur di tengah jalan karena merasa gagal merealisasikan janji. Dia gagal memenuhi butir-butir deklarasi yang telah ditandatangani.

Di negeri ini, pemimpin publik yang berani mundur karena gagal adalah manusia super langka. NTT akan tercatat dalam sejarah bangsa kalau berani menjadi yang pertama.

Tahun 2008 belum setengah jalan. Masih ada 11 pesta demokrasi memilih pemimpin daerah. Akan muncul 22 tokoh terpilih. Boleh jadi, Anda dan beta sungguh memilih “pemimpin yang gila”. Tapi mereka ternyata gila kekuasaan dan harta. Wah… celaka sembilanbelas! (email: dionbata@poskupang.co.id)

Rubrik BERANDA KITA (BETA) Pos Kupang edisi Senin, 26 Mei 2008, halaman 1

No responses yet

May 26 2008

“Pemimpin Gila”

Published by dionbata under BETA

“DIBUTUHKAN pemimpin gila untuk sedikit mengubah keadaaan sekarang. Jangan salah paham, maksud saya adalah pemimpin yang mampu melahirkan ide gila untuk membangun Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia juga berani memikul resiko, bahkan ‘cuek bebek’ saja dicap gila karena melawan arus.”
Demikian isi salah satu surat yang masuk ke alamatku beberapa hari lalu. Surat elektronik dari seorang sahabat. Dia anak NTT yang sedang menimba ilmu di luar Kupang. Dari sisi usia dan pengalaman, dia anak kemarin sore. Masih hijaulah.

Namun, suratnya inspiratif. Caranya menyentil patut direnungi. Malah lebih cocok disebut provokasi. Dia memprovokasi cara berpikir untuk “menemukan” pemimpin gila, berani pikul resiko dan mau melawan arus umum. Wah, sulit bung!

Pemimpin gila, apa relevansinya dengan rumah Flobamora hari ini? Bukankah dalam sejarahnya yang panjang, NTT memiliki pemimpin dengan ide gila dan berani ambil resiko? Bukankah Flobamora tidak kekurangan orang-orang berani? Tidak cuma berani, tetapi cakap dan mampu merealisasikan “ide gila”guna meningkatkan kesejahteraan rakyat. Siapakah dia — tak mesti disebut dalam ruang terbatas ini!

Ide gila tentu maksudnya gagasan yang tidak biasa. Langkah gila artinya tindakan tak lazim. Tak latah mengikuti arus umum. Pemimpin yang memiliki ide gila niscaya rakyat akan tergila-gila padanya. Kita agaknya butuh pemimpin dengan kapasitas semacam itu. Dalam lima tahun ke depan, NTT butuh pemimpin dengan “program gila” yang dapat menekan sekecil mungkin anak NTT yang menderita busung lapar dan gizi buruk. Keterlaluan kalau setiap tahun kita jatuh ke lubang yang sama terus. Jatuh dan jatuh lagi. Malu kita.

Guna mengatasi pengangguran yang bikin pening kepala para orangtua di NTT, kita dambakan pemimpin yang berani buat gebrakan. Misalnya, program stop kirim TKI bermodal otot! Saatnya NTT kirim TKI berotak. Kerjanya tidak semata jaga ladang majikan, petik sawit, buruh bangunan atau memasak, seterika dan rawat anak tuan dan nyonya di Malaysia, Singapura, Hongkong.

Sudah waktunya NTT kirim TKI yang lebih berkelas semisal perawat, guru, sopir, koki, pemandu wisata, tukang las, operator mesin atau tenaga IT ke Australia, Belanda, Timur Tengah, Korea, Taiwan, Cina, Timor Leste atau negara mana pun yang butuh. Untuk jangka panjang, NTT kirim para manajer high class seperti sukses diperlihatkan India dan Filipina, dua negara Asia yang sama miskinnya dengan Indonesia. Maka si pemimpin membuat program imajiner: “Dalam lima tahun mencetak satu juta anak NTT cakap berbahasa Inggris”. Bila perlu ditambah mahir bahasa Mandarin mengingat pemakai dua bahasa itu terbanyak di dunia. Bahasa internasional.

Saban tahun dia mengalihkan sebagian APBD untuk program bahasa Inggris- Mandarin bagi lulusan SMK, Poltekes, dan lain-lain. Setiap tahun pemimpin itu menggunting pita, simbolis mengirim 500-1.000 TKI berotak ke Australia, Belanda. Dia tidak lagi bangga sekadar menghadiri panen perdana ini dan itu. Dia berprinsip baik adanya mencetak tenaga kerja NTT berkompetensi internasional ketimbang APBD hanya dipakai untuk studi banding yang hasilnya remang-remang saja.

Kita juga butuh pemimpin dengan “ide gila” guna mengalihkan perhatian rakyat ke laut. Dua pertiga wilayah NTT adalah laut yang kaya-raya, tetapi rakyat lebih suka daratan yang kurus, kering dan terbatas. Kekayaan laut menjadi sumber kemakmuran orang lain. Kalau rakyat tetap malas, sesekali pakai sedikit tangan besi. Toh pembangunan bukan tanpa resiko dan korban. Yang perlu dikawal adalah meninimalisir korban. Singapura maju justru karena demokrasi ala Lee Kuan Yew bergaya “tangan besi”. Maka hidup mereka makmur-sentosa. Teratur, taat hukum, disiplin dan jadi negara papan atas dunia.

Di Kota Kupang pekan lalu sudah ada semacam kontrak hitam putih di bidang kesehatan. Ada deklarasi moral dengan para calon pemimpin. Dalam pekan ini akan muncul deklarasi dalam bidang lain, misalnya ekonomi, sosial budaya dan politik. Mudah-mudahan deklarasi itu akan melahirkan pemimpin yang tidak marah dicap “gila” saat dia mundur di tengah jalan karena merasa gagal merealisasikan janji. Dia gagal memenuhi butir-butir deklarasi yang telah ditandatangani.

Di negeri ini, pemimpin publik yang berani mundur karena gagal adalah manusia super langka. NTT akan tercatat dalam sejarah bangsa kalau berani menjadi yang pertama.

Tahun 2008 belum setengah jalan. Masih ada 11 pesta demokrasi memilih pemimpin daerah. Akan muncul 22 tokoh terpilih. Boleh jadi, Anda dan beta sungguh memilih “pemimpin yang gila”. Tapi mereka ternyata gila kekuasaan dan harta. Wah… celaka sembilanbelas! (email: dionbata@poskupang.co.id)

Rubrik BERANDA KITA (BETA) Pos Kupang edisi Senin, 26 Mei 2008, halaman 1

No responses yet

Next »