Archive for May, 2006

May 18 2006

Lehmann

Published by dionbata under Uncategorized

Filosofi serdadu Jerman

Catatan sepakbola Dion DB Putra

JENS Lehmann sungguh melaksanakan filosofi serdadu Jerman. Bunuhlah lawanmu atau Anda dibunuh! Ia berusaha mematahkan kaki kijang Afrika, Samuel Eto’o di depan sarangnya pada awal perang. Tapi The Gunners gagal memenangkan laga. Pertempuran di Stade de France berakhir dramatis. El Barca yang selama 75 menit frustrasi menembus tembok pasukan Wenger, mendapat second wind pada limabelas menit terakhir. Dua assist Henrik Larsson buat Eto’o dan Belleti memaksa Thierry Daniel Henry merunduk sedih di tanah airnya sendiri. Tahta Eropa akhirnya memang untuk Ronaldinho-Rijkaard. Pesta bukan untuk Paris, kota dimana Henry belajar bermain bola. Paris Rabu malam itu milik rakyat Espana, Catalunya.  Dan, Henry gagal menembus bayang-bayang yang masih membalut karir profesionalnya. Ia belum sanggup menciptakan sejarah bagi  tim kebanggaan warga ibu kota Britania yang mungkin segera ditinggalkannya.

Grandfinal yang mengecewakan. Anti-klimaks. Pertandingan monoton, cuma bergulir setengah lapangan hampir selama 90 menit. Demikianlah sedikit gambaran yang dapat kita saksikan saat Barcelona menghadapi Arsenal di final Liga Champions Eropa, Rabu (17/5) malam atau Kamis (18/5) dinihari Wita.

Jens Lehmann menangis di kamar ganti Stade de France saat wasit Norwegia, Terje Hauge meniup peluit panjang. Dengan mata sembab dan langkah gontai ia menuju panggung upacara. Menerima medali perak dari Presiden UEFA, Lennart Johansson. Medali tanpa senyum menyungging bibir.

Salahkah Lehmann menjegal  kaki Eto’o pada menit ke-17? Tepatkah keputusan Hauge mengusir Jens? Masih dapat diperdebatkan, tergantung sudut pandang. Wasit pastilah memiliki cara pandang sendiri. Secara teknis, Lehmann tak punya pilihan lain yang lebih baik dalam momen segenting itu dan berlangsung sangat cepat. Tiba-tiba saja striker asal Kamerun itu tinggal berhadapan dengannya di mulut gawang. Sebelumnya, Eto’o dengan liat berhasil lolos dari kepungan Emmanuel Eboue, Kolo Toure dan Sol Campbell. Bila tidak dijegal, Eto’o hampir pasti mencetak gol karena Lehmann  meninggalkan sarang kosong.

Filosofi yang dipegang teguh setiap kiper adalah pantang menyerah sampai detik akhir. Lakukanlah selagi mungkin Anda menggagalkan lawan mencetak gol. Lehman sudah mewujudkannya, namun ia mengubah jalannya drama Paris 2006. Seandainya Eto’o lolos dan mencetak gol namun gawang Arsenal tetap dikawal Jens Lehmann sampai 90 menit — tidak mustahil hasil akhir akan berbeda. Toh dalam 10 menit pertama saja, dua kali Thierry Henry nyaris menjebol Victor Valdes. Pergerakan Francesc Fabregas dan Ljungberg amat merepotkan  Edmilson, Rafael Marguez, Presas Oleguer dan Carles Puyol.

                                                        ***

JENS Lehmann kiper terbaik  Eropa musim ini. Dari 47 penampilannya selama musim 2005/2006 baik di Liga Liga Champions, Premierships mapun  FA Cup, gawang Lehmann hanya kemasukan 13 gol. Khusus di Liga Champions, rekor Lehmann fantastik sejak babak 16 besar. Menghadapi Real Madrid, Juventus dan Villarreal dalam enam pertandingan  gawangnya tetap perawan. Tidak kebobolan dalam 10 pertandingan beruntun kompetisi antarklub elit Eropa tidak mudah diraih banyak kiper profesional. Maka pantasnya pelatih timnas Jerman, Juergen Klinsmann menggusur Oliver Kahn ke nomor dua. Kiper utama tim Panser di Piala Dunia 2006 mulai 9 Juni mendatang adalah Jens Lehmann (26), pemain kelahiran Essen, 10 November 1969 itu.

Sejak Lehmann meninggalkan lapangan menit ke-18 karena kartu merah dari wasit  Hauge,  Arsenal yang sebelumnya bermain  menyerang dalam format padu 4-4-1-1 berubah total. Wenger sebetulnya kehilangan dua orang sekaligus.  Karena harus memasukkan kiper Manuel Almunia, Robert Pires pun dikorbankan. Pires pergi, lini tengah Arsenal pincang. Maka Henry harus turun jauh membantu pertahanan.  El Barca racikan Rijkaard dalam skema 4-4-2 tak henti-hentinya membombardir jantung pertahanan Arsenal yang tinggal bermain dengan 10 orang.

Di luar dugaan The Gunners malah mencetak gol duluan lewat heading indah Sol Campbell pada menit ke-37 menyambar umpan free-kick Thierry Henry dari sisi kiri pertahanan Barcelona. Hanya itulah kesempatan emas Arsenal sejak kepergiaan Lehmann, namun mereka memanfaatkannya dengan hasil 100 persen. Gol Campbell memompa semangat juang tim London utara itu menahan gempuran bertubi-tubi dari Barcelona yang nyaris kehilangan akal menembus ketatnya kuartet lini belakang Arsenal, Campbell, Ashley Cole, Toure dan Eboue.

Arsenal memiliki pertahanan solid. Dari 13 kali penampilandi Liga Champions musim ini, termasuk final melawan Barcelona, gawang mereka  kemasukan 4 gol. Itupun dua gol menembus jaring Almunia di pantai puncak. Tidak heran, dia kiper cadangan yang minim merumput. Musim ini baru tampil 7 kali membela Arsenal.

Dengan kekuatan 10 orang dan memimpin 1-0, dapat dimengerti jika pilihan taktik Wenger sejak menit ke-18 adalah defensif. Bahkan bisa disebut ultra-defensif jika menilik data  ball possession 71 persen dikuasai Barcelona selama 90 menit.

Masuknya Mathieu Flamini menggantikan Fabregas dimaksudkan Wenger untuk menambah solid pertahanan. Keputusan sebaliknya terjadi di kubu Barcelona. Frank Rijkaad menarik Mark Van Bommel yang kurang efektif mensuplai bola kepada Giuly di sayap pada menit ke-61. Pilihannya jatuh pada Larsson yang pasti tidak menjadi fokus perhatian Sol Campbell dkk. Sepuluh menit kemudian ia memasukkan Belletti, menarik Oleguer yang sudah loyo karena keletihan.

Paris 2006 adalah final yang membosankan! Bosan karena sepakbola menyerang yang jadi ciri Arsenal-Barcelona dan dirindukan penggemar sejagat tak tampak sama sekali. Yang terlihat selama satu setengah jam cuma 11 prajurit Catalunya mengurung benteng musuhnya dengan beragam cara dan mereka sukses dalam rentang waktu empat menit. Henry sesekali naik menyerang. Sempat mencekam Valdes, tapi gol tak bertambah.

Kenyataannya Arsenal gagal menorehkan sejarah, namun  Arsene Wenger menciptakan neraka bagi El Barca selama 75 menit.  Beberapa keputusan wasit yang kurang menguntungkan kubu Arsenal tidak membuat Thierry Henry dkk putus asa. Mereka menerima kekalahan dengan jiwa besar sambil menghormati kerja keras Ronaldinho, Deco, Puyol. Juga Eto’o yang membalikkan keadaan dengan golnya menit ke-76 setelah menerima  umpan cerdas Larsson.  Henrik Larsson yang segera pensiun itu lagi-lagi memperlihatkan kematangannya empat menit kemudian dengan assist bagi Juliano Belletti untuk memperdayai Almunia kedua kalinya. Gol kemenangan yang mengantar Barcelona memenangkan Liga Champions kedua setelah tahun 1992.

Sejarah bola hari ini memihak Rijkaard. Ia masih muda usia tetapi  pawainya sebagai pelatih berbakat tak kan lagi dipandang sebelah mata. Mungkin belum setara Wenger bagi Arsenal atau sanga legenda Johan Cruyff bersama El Barca, tapi Rijkaard menambah catatan rekornya sebagai pemain dan pelatih yang lima kali merasakan indahnya menjadi juara Eropa bersama tiga klub berbeda. Dan, Ronaldinho menggenapi koleksi gelarnya. **

One response so far

May 18 2006

Menembus bayang-bayang

Published by dionbata under Sports

Menembus bayang-bayang

Catatan sepakbola Dion DB Putra

TAKDIR, kalau itu ada, tak cukup bersahabat dengan Thierry Henry. Henry sedemikian jauh tetaplah  pemain fantastik bertalenta tinggi tetapi selalu dalam bayang-bayang kebesaran orang lain. Dan, orang lain itu umumnya sahabatnya sendiri. Padahal siapa tak kenal Henry? Dia salah seorang pemain hebat dalam sejarah sepakbola modern. Tidak hanya bagi Arsenal, klub Inggris yang dibelanya dengan penuh kasih dan totalitas seorang profesional. Dia juga seniman bola bagi tanah air yang dicintainya, Perancis.

Di tim nasional, popularitas Henry jauh di bawah sang maestro,  Zinedine Zidane. Bahkan orang lebih kagum pada kiper nyentrik yang doyan perempuan seksi, Fabien Barthez. Meski sama-sama mengantar Perancis memenangkan Piala Dunia 1998 dan Euro 2000,  pasukan Les Bleus identik dengan Zizou — anak Perancis berdarah Aljazair. Bukan Henry, si hitam manis berkepala lonjong dengan wajah sederhana seperti kebanyakan orang Lio.

Di  Arsenal, klub kebanggaan warga London utara,  bertahun-tahun lamanya namanya tenggelam dalam puja-puji  buat sesama Perancis hitam, Patrick Vieira. Bahkan sampai Patrick memilih pindah ke Juventus musim panas 2005 untuk memburu gelar juara Eropa,  Henry tetap dianggap nomor dua di Highbury. Kepergian Patrick menciptakan sensasi. Klub London itu seolah kiamat sekejap. Semua sedih. Kecewa, gamang. Arsene Wenger, sang arsitek berhati baja itu sempat goyah karena dikecam habis fans Arsenal. Patrick meninggalkan kesan mendalam di hati penggemar Arsenal. Sembilan tahun ia mengenakan jubah The Gunners dengan enam  tropi mengisi lemari klub. Keputusan Wenger melepasnya ke Turin dianggap salah besar. "Arsenal telah kehilangan rohnya," begitu judul tabloid The Sun mengomentari hengkangnya Patrick Vieira ke Seri A.

Semua orang London melupakan jasa Thierry  Henry. Benar bahwa Patrick adalah kunci lini tengah Arsenal selama sembilan tahun. Dia jenderal lapangan, gelandang dengan daya pukul maut dan sanggup membangkitkan daya juang tim di saat sulit. Tetapi dia tidak bisa apa-apa tanpa rekan Perancisnya, Henry.

Henry penjebol gawang ulung. Top scorer Liga Utama Inggris tak tertandingi, termasuk oleh anak Belanda, Ruud van Nistelrooy serta bintang tuan rumah, Michael Owen dan Wayne Rooney. Dalam lima musim terakhir dia mencetak 133 gol bagi Arsenal di Liga Premier. Jumlah itu belum termasuk gol Henry pada kompetisi resmi lain seperti FA Cup, Carling Cup, Liga Champions dan even lainnya. Ia ikut membantu Arsenal merebut gelar terhormat temasuk juara Liga Utama Inggris 2001/2002 dan 2003/2004 yang membuat Wenger disegani, sejajar martabatnya dengan pelatih  MU, Sir Alex Ferguson. Tetapi itulah takdir Henry. Bintang kelahiran Les Ulis-Paris, 17 Agustus 1977 ini tenggelam dalam bayang-bayang Patrick. Sukses Arsenal seolah bukan karena pencapaiannya yang luar biasa sebagai striker dengan sentuhan lembut-memabukkan di kotak penalti lawan. Dalam hal penghargaan atau award pun Henry kalah gemilang dibanding macan dari timur Eropa yang membela AC Milan, Andriy Shevchenko atau punggawa Juventus asal Republik Ceko, Pavel Nedved. Paling jauh Henry nomor satu di Inggris seperti yang baru saja diraihnya  tahun ini — tidak untuk level Eropa apalagi dunia. Di fora internasional, Henry sekadar masuk nominasi atau nomor urut kedua dan  ketiga.

                                                          ***

KE Turin memburu gelar Eropa bersama Super Juve. Sayang nian, mimpi Patrick tak kesampaian. Bagai pungguk merindukan bulan. Patrick harus puas menggenggam scudetto ke-29 Seri A bersama Nyonya Besar yang kini dibumbui kontroversi suap wasit. Tak lebih baik dari prestasinya bersama The Gunners yang tanpa Vieira  mampu bertahan dalam kelompok empat besar sehingga otomatis lolos ke babak utama Liga Champions musim depan 2006/2007.

Hukum alam bicara lantang dan jujur! Mimpi  Patrick dibuyarkan bekas klubnya Arsenal. Dikikis sobat sendiri bernama lengkap Thierry Daniel Henry. "Henry menghukum Juventus!" Judul utama tabloid olahraga La Gaezzetta dello Sport sehari setelah Arsenal menekuk Juventus 2-0 di perempatfinal pertama Liga Champions di Highburry, 28 Maret 2006. Sepekan kemudian di Delle Alpi, Si Nyonya Tua dibikin bingung selama 90 menit. Skor 0-0,  Henry membawa Arsenal ke semifinal. Patrick Vieira  sesenggukan di kamar ganti Juve. Henry berusaha menghiburnya dalam acara makan malam berdua di Turin. Patrick baru sadar — betapa pentingnya Henry bagi Arsenal. Henry telah menjadi nyawa Arsenal.

Sukses menyingkirkan Villareal di semifinal dengan agregat 1-0 (1-0, 0-0)  menggenapi wibawa Henry sebagai pemimpin tim. Dia pantas memikul ban kapten yang ditinggalkan Vieira. Villareal adalah tim kedua Spanyol yang dijegal Arsenal dalam  road to Stade de France 2006 setelah pemegang rekor Liga Champions, Real Madrid yang dihabisi pada putaran pertama babak knock-out.

Arsenal kini sudah berada di Paris, selangkah lagi menorehkan sejarah, memenangkan Liga Champions Eropa pertama kalinya. Apakah mungkin?

Rabu (17/5) malam ini atau Kamis (18/5) dinihari Wita, Henry memimpin Arsenal menghadapi Barcelona yang diyakini lebih segala-galanya. Di sana ada Samuel Eto’o, pemain terbaik Afrika 2005, top scorer La Liga musim ini. Lebih-lebih lagi di sana bermukim si tukang sihir dari Brasilia,  pemain terbaik dunia FIFA dua tahun beruntun (2004-2005), Ronaldinho.

Sejak menghuni Nou Camp tahun 2003, setelah melewati dua musim yang mengecewakan bersama Paris St Germain (Perancis),  Ronaldo de Assis Moreira atau Ronaldinho langsung menjadi ikon El Barca. Ronaldinho hanya butuh waktu singkat untuk mengantar Barcelona menjuarai La Liga Primera dua tahun berturut-turut. Bahkan sekarang sudah di final kejuaraan antarklub tertinggi Eropa. Berkat polesan pelatih Frank Rijkaard, bagian dari trio maut Belanda bersama Ruud Gullit dan Marco van Basten yang memenangkan Liga Champions 1989-1990 bersama AC Milan,  Ronaldinho menjadi bintang yang hampir meraih segalanya sebagai pemain bola dalam usia 26 tahun, kecuali juara Liga Champions yang kini di depan mata. Pemain kelahiran Porto Alegre-Brasil, 21 Maret 1980 itu meraih tropi Piala Dunia 2002 bersama Brasil dan terpilih sebagai pemain terbaik Eropa dan dunia. Tropi Liga Champions  seolah-olah hanya menggenapi koleksinya.

Thierry Henry dkk menghadapi raksasa dari Catalan. Mampukah Henry menembus kebesaran El Barca dengan Ronaldinho-nya yang di Liga Champions musim ini sudah mengoleksi 7 gol, sementara Henry baru mengumpulkan lima?  Sanggupkah dia menghentikan Ronaldinho yang selalu menyihir dan mempesona? Bisakah menenggelamkan Dinho, sahabat karib yang selalu berkomunikasi dengannya meski beda klub dan bahkan malam nanti harus saling menikam?

Sejarah Arsenal ditentukan oleh mereka sendiri.  Juara Liga Champions adalah impian terbesar The Gunners sepanjang sejarahnya. Siapa tahu Henry akan mewujudkan itu di kota kelahirannya. Duel Henry-Ronaldinho. Wenger-Rijkaard. Demikian  titel grandfinal Liga Champions 2006. Satu di antaranya akan keluar sebagai Raja Eropa. Entah Henry, mungkin juga Ronaldinho. Agaknya kata-kata Zinedine Zidane ini cukup baik melukiskan siapa kedua bintang itu, "Ronaldinho is a special player, but Thierry Henry is probably technically the most gifted footballer ever to play the beautiful game."  Juga Fabio Capello yang pernah merasakan sakitnya disikat Henry. "When he’s on fire, he is impossible to stop." Mampukah Ronaldinho menghentikan Henry? Jika ya, maka Henry sekali lagi akan segera dilupakan karena pesta di Paris malam ini, di tanah tumpah darah Thiery-Arsene bukan milik anak negeri. Pesta itu untuk Barcelona. Bendera Spanyol yang berkibar-kibar. Puja-puji dunia buat anak Brasil dan Belanda. Ronaldinho-Rijkaard. Dua negeri bola yang sama mengagumi keindahan sepakbola menyerang. Selamat menonton. **

No responses yet